Senin, 14 Maret 2022
Jangan Tengkar Hanya Karena Beda Istilah
Makna Filusufis Logo Halal Indonesia Yang Baru
Jumat, 02 April 2021
M. TABRANI: PENGGAGAS BAHASA PERSATUAN INDONESIA DARI PAMEKASAN MADURA
Oktober merupakan salah satu bulan penting yang patut dikenang oleh bangsa kita. Selain sebagai bulan Sumpah Pemuda, Oktober juga bulan kelahiran M. Tabrani, penggagas bahasa persatuan Indonesia. M. Tabrani lahir di Pamekasan, Madura, pada tanggal 10 Oktober 1904 dengan nama lengkap Mohammad Tabrani Soerjowitjitro.
M. Tabrani menggagas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sejak ia bekerja sebagai insan pers di harian Hindia Baru, mulai Juli 1925. Dalam kolom ‘Kepentingan’ yang ia asuh di lembaga pers tersebut, pada tanggal 10 Januari 1926, dimuat tulisannya berjudul "Kasihan", yang memunculkan gagasan awal untuk menggunakan nama bahasa Indonesia.
Ketika itu, M. Tabrani menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan bangsa. Konsep kebangsaan yang muncul dari gagasan M. Tabrani tersebut merujuk pada kondisi nyata keberagaman orang-orang Hindia Belanda yang masih bersifat kedaerahan atau kesukuan dan masih mengutamakan kepentingan suku atau pun daerahnya masing-masing sebagaimana terbentuknya organisasi-organisasi kepemudaan pada masa itu.
“Bangsa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bangsa Indonesia itu! Bahasa Indonesia belum ada. Terbitkanlah bahasa Indonesia itu!” demikianlah gelora Tabrani sebagaimana dituliskannya dalam koran Hindia Baru (edisi 11 Februari 1926) pada kolom ‘Kepentingan’ yang dengan penuh keberanian diberi judul “Bahasa Indonesia”.
Ditegaskan, penerbitan bahasa Indonesia itu bertujuan agar pergerakan persatuan anak-Indonesia akan bertambah keras dan cepat. Menurut dia, jika kita membuat bahasa itu bahasa Melayu, kita salah. Hal itu karena sebutan tersebut dipastikan mengandung sifat imperialisme dari bahasa Melayu terhadap bahasa lainnya yang digunakan bangsa kita.
Itulah sikap tegas M. Tabrani yang terungkap pada kolom ‘Kepentingan’. Pada bagian akhir kolom itu, Tabrani menutup tulisannya dengan sebuah visi luar biasa: “karena menurut keyakinan kita, kemerdekaan bangsa dan tanah air-kita Indonesia ini terutama akan tercapai dengan jalan persatuan anak-Indonesia yang antara lain-lain terikat oleh bahasa Indonesia”. Sebagai penutup kolom, disebutkan nama penulis: Tabrani D.I. Penggunaan singkatan nama D.I. itu dijelaskan secara terpisah: bukan nama organisasi Darul Islam, melainkan Dienaar Indie, berarti ‘Abdi Indonesia’.
Gagasan berani dan mendahului zaman M. Tabrani tersebut bukan tanpa halangan. Disebut berani, karena pada masa itu, 1926, Indonesia masih berupa Hindia Belanda. Bahkan terkait gagasan itu, kawan seperjuangannya, yaitu Mohammad Yamin, menyebut gagasan tersebut sebagai lamunan M. Tabrani dalam Kongres Pemuda Pertama, 1926. Sahdan, Yamin sampai ‘naik pitam’ karena Tabrani menyetujui seluruh pidato Yamin, tetapi menolak konsep usul resolusinya pada Kongres Pemuda Pertama 1926 (terutama usulan Yamin pada butir ketiga: menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu, sedangkan M. Tabrani mengusulkan bahasa persatuan bahasa Indonesia). Pada saat itu, M. Tabrani bertindak sebagai Ketua Kongres dan dia baru berusia 22 tahun.
Atas perbedaan pendapat antara Yamin dan Tabrani tersebut, kebijaksanaan yang diambil adalah keputusan terakhir itu, tentang bahasa persatuan, ditunda sampai dengan Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada tahun 1928. Pesan Kongres Pemuda Pertama dititipkan kepada M. Yamin dengan catatan penting bahwa nama bahasa Melayu diganti menjadi bahasa Indonesia. Terbukti bahwa Yamin selaku penulis dalam Kongres Pemuda Kedua menunaikan amanat itu dengan baik, sehingga butir ketiga pun disepakati bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia, yang merupakan ikrar atau kesepakatan pemuda, dan sekarang dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Sungguh, ‘lamunan’ Tabrani tidak percuma. Cita-cita ‘persatuan anak-Indonesia’ terwujud dengan persatuan anak manusia Indonesia yang kala itu masih berpikir dan bertindak sebagai orang Melayu, Jawa, Sunda, dan lain-lain, yang berbeda atribut kemanusiaannya dalam hal suku, ras, agama, golongan, dan bahasa. Dari atribut kemanusiaan itu, Tabrani memilih bahasa sebagai cara berpikir sekaligus membentuk pikiran bersama untuk berjuang, bekerja sama dan bersatu untuk menjadi sesama anak-Indonesia.
Pilihan M. Tabrani berupa bahasa Indonesia merupakan perjuangan gemilang yang tak terbilang, yang tidak hanya dalam hal penamaannya, tetapi juga penggunaannya. Geliat perjuangan penggunaan bahasa Indonesia diketahui sangat gigih bermula dari Volksraad (Dewan Rakyat), yang turut mendukung Kongres Bahasa Indonesia (KBI) Pertama di Solo pada tahun 1938. Pada saat KBI itu M. Tabrani pun membuat prasaran “Penyebaran Bahasa Indonesia”. Sementara itu, untuk melembagakan nama bahasa ini, prasaran “Institut Bahasa Indonesia” juga diusung oleh Sanusi Pane: orang yang menopang pendirian M Tabrani dalam perdebatan dengan Yamin pada tanggal 2 Mei 1926 ketika gagasan bahasa persatuan Indonesia dibuat dalam Kongres Pemuda Pertama.
M. Tabrani, sang penggagas bahasa persatuan Indonesia wafat pada tanggal 12 Januari 1984 dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta. Sejatinya, makam itu adalah situs memori untuk menapaktilasi M. Tabrani, selain kota kelahirannya di Pamekasan Madura dan beberapa tulisannya di media massa tempo doeloe. Tanda jasa Perintis Kemerdekaan telah dianugerahkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia pada 1975. Pada tahun 2019, M. Tabrani juga telah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Namun, tanda jasa dan penghargaan itu masih perlu ditambahkan mengingat jasa-jasa M. Tabrani bagi bangsa dan negara. Untuk itu, pada tanggal 30 Maret 2021, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, dan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan segenap elemen masyarakat di Kabupaten Pamekasan melakukan sosialisasi pengajuan penghargaan negara berupa gelar pahlawan nasional kepada M. Tabrani karena gagasan besarnya melahirkan bahasa Indonesia yang terbukti mempersatukan manusia Indonesia yang berbeda-beda. Bahasa Indonesia pun menemukan martabat dan marwahnya sebagai bahasa persatuan!
Mudah-mudahan, segalanya lancar dan bermanfaat!
MA
On Siwalanpanji, 2021
Kamis, 11 Maret 2021
Bahaya Tidur Setelah Subuh Dalam Tinjauan Islam Dan Medis
Jika kalian terbiasa tidur setelah subuh maka berhentilah karena hal itu merupakan kegiatan yang dapat membahayakan diri kita baik lahir ataupun batin. Berikut bahaya tidur setelah subuh menurut islam dan kedokteran;
Bahaya Tidur Setelah Subuh Dalam Tinjauan Islam
1. Tidak mendapatkan
barokah dari rasulullah
Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah,
berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Shakhr Al Ghamidi radhiyallahu anhu, sahabat yang meriwayatkan
hadits ini, adalah orang yang telah membuktikan doa Rasulullah tersebut.
Sebagai pedagang, Shakr biasa pergi untuk berdagang mulai pagi-pagi dan
akhirnya sukses menjadi saudagar kaya.
2. Hilangnya sifat
optimis
“Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu
pagi.” (HR. Al Bukhari)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ghadwah dalam hadis ini artinya
adalah waktu antara Subuh dan matahari terbit.
Ulama sekaliber Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ketika dirinya
berzikir setelah Subuh, siangnya beliau semangat. Kekuatannya bertambah. Tetapi
ketika tidak berzikir di waktu pagi setelah Subuh, siangnya seperti kehilangan
semangat.
3. Lemahnya fisik
Tidur di waktu pagi juga bisa mengakibatkan kondisi fisik melemah
dan mudah sakit. Terutama sakit kepala. Menurut sebuah hasil studi, tidur pagi
menyebabkan serebrospinal bergerak ke otak. Inilah yang menimbulkan sakit
kepala.
Jauh sebelum adanya studi ini, Ibnu Qayyim Al Jauziyah telah
memberikan nasehatnya. “Tidur pagi juga Menyebabkan berbagai penyakit
badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat,” tulisnya dalam Zaadul
Maad.
4. Penghalang pintu
rezeki
Sebagaimana Ibnu
Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,
“Tidur setelah subuh
mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu makhluk mencari rezeki mereka
dan waktu dibagikannya rezeki. Tidur setelah subuh suatu hal yang dilarang
(makruh) kecuali ada penyebab atau keperluan.”
Ibnu Qayyim Al Jauziyah masih dalam Zaadul Maad- mengatakan: “Empat
hal yang menghalangi datangnya rezeki adalah tidur di waktu pagi, sedikit
shalat, malas-malasan dan berkhianat.”
Bahaya Tidur Setelah Subuh Dalam Tinjauan Medis
Berikut ini beberapa dampak negative dari tidur setelah subuh dari
pandangan medis yang dikutip dari beberapa penelitian dan Alo dokter:
1. Diabetes Mellitus
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kurang tidur di malam
hari atau kebiasaan tidur di pagi hari, atau bahkan tidur terlalu lama dapat
merusak system metabolism tubuh karena pada pagi hari merupakan waktu untuk
tubuh mendapatkan sumber energy (melalui sarapan) dan dapat memicu meningkatnya
risiko terkena diabetes.
Tubuh akan kesulitan mengendalikan kadar gula darah karena rusaknya
system metabolism, sehingga tubuh terkena diabetes. Selain itu, penderita
diabetes mudah lesu dan mengantuk di pagi hari disebabkan karena produksi
insulin yang rendah, sehingga tubuh tidak mampu mengubah gula darah menjadi
energy.
2. Obesitas
Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat membuat berat badan
meningkat. Hal ini diduga karena kurang tidur dapat membuat nafsu makan
meningkat, sehingga orang akan cenderung makan lebih banyak ketika kurang
tidur.
3. Penyakit Jantung dan
Pembuluh darah
Sering tidur pada pagi hari dan kurang tidur dapat meningkatkan
risiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung
dan stroke. Kurang tidur dapat meningkatkan tekanan darah dan peradangan dalam
tubuh. Kedua hal inilah yang akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit
jantung dan stroke.
4. Mudah Lupa dan Sulit
Berkonsentrasi
Waktu tidur yang kurang dapat menyebabkan seseorang menjadi sulit
untuk mengingat/ lupa. Karena saat tertidur, tubuh beristirahat dan memperbaiki
sel- sel dan jaringan otak. Apabila seseorang kurang tidur, maka jaringan
otaknya akan kekurangan oksigen serta energy sehingga dapat menjadi mudah lupa.
Selain mudah lupa, kurang tidur yang berkualitas dapat menyebabkan
seseorang akan lebih sulit untuk focus bekerja atau belajar, sehingga dapat
menurunkan produktivitas saat bekerja ataupun belajar.
5. Mood Mudah
berubah dan Peningkatan Stress
Kurangnya tidur di malam hari dalam jangka yang panjang dapat
menyebabkan perubahan mood, membuat emosi seseorang menjadi kurang
stabil, bahkan peningkatan stress. Berdasarkan penelitian Miftahul, dkk (2019)
tidur di pagi hari dapat meningkatkan kecemasan dan stress mahasiswa.
6. Peningkatan Risiko
Kanker
Orang yang sering tidur pagi memiliki risiko terkena kanker lebih
tinggi. Hal tersebut didukung beberapa studi yang menyebutkan bahwa sebagian
pasien kanker memiliki kebiasaan sering begadang atau yang tidur kurang dari 7
jam.
Salah satunya adalah kanker hati, berdasarkan situs resmi UGM FK
bagian Radiologi, bahwa penelitian para dokter di National Taiwan
Hospital menemukan bahwa tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang merupakan
penyebab utama kerusakan hati.
Ditinjau oleh: dr. Kevin Adrian
Selasa, 08 Desember 2020
Kesalahan Besar Seorang Ibu Saat Membuang Asi Pertama Setelah Melahirkan
Kesalahan besar bagi seorang ibu saat membuang asi yang keluar pertama kali setelah melahirkan sang bayi, karena asi yang keluar pertama kali setelah melahirkan amat sangat bermanfaat bagi bayi, asi tersebut dinamakan Kolostrum.
Adapun pengertian kolostrum dan
beberapa kandungannya sebagai berikut. [1]
Kolostrum (dari bahasa
latin colostrum) atau jolong adalah susu yang dihasilkan oleh kelenjar susu
dalam tahap akhir kehamilan dan beberapa hari setelah kelahiran bayi. Kolostrum
manusia dan sapi warnanya kekuningan dan kental. Kolostrum penting bagi bayi
mamalia (termasuk manusia) karena mengandung banyak gizi dan zat-zat pertahanan
tubuh.
Kolostrum mengandung banyak
karbohidrat, protein, dan antibodi, dan sedikit lemak (yang sulit dicerna
bayi). Bayi memiliki sistem yang belum sempurna, dan kolostrum memberinya
nutrisi dalam konsentrasi tinggi di seiap tetesnya. Kolostrum juga mengandung
zat yang mempermudah bayi buang air besar pertama kali, yang disebut meconium.
Karakter kolostrum ini sangat bermanfaat unntuk membersihkan tubuh bayi dari
bilirubin, yaitu sel darah merah yang mati yang diproduksi ketika kelahiran.
Kolostrum adalah cairan pra-susu
yang dihasilkan oleh induk mamalia dalam 0-48 jam pertama setelah melahirkan
(pasca-persalinan). Kolostrum mensuplai berbagai faktor kekebalan (faktor imun)
dan faktor pertumbuhan pendukung kehidupan dengan kombinasi zat gizi (nutrien)
yang sempurna untuk menjamin kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kesehatan
bagi bayi yang baru lahir. Namun karena kolostrum manusia tidak selalu ada,
maka kita harus bergantung pada sumber lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kolostrum sapi (bovine colostrum) sangat mirip dengan kolostrum manusia dan
merupakan suatu alternatif yang aman. Bahkan ada laporan yang menyatakan bahwa
kolostrum sapi empat ratus kali lebih kaya akan faktor imun daripada kolostrum
manusia.
Ada lebih dari 90 bahan bioaktif
alami dalam kolostrum. Komponen utamanya dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor
imun dan faktor pertumbuhan. Kolostrum juga mengandung berbagai jenis vitamin,
mineral, dan asam amino yang seimbang. Semua unsur ini bekerja secara sinergis
dalam memulihkan dan menjaga kesehatan tubuh.
Perintah menyusui anak sejak awal kelahiran Allah swt perintahkan kepada
ibu Nabi Musa as, sebagaimana difirmankan dalam QS. Al-Qashash [28]: 7: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu
Musa; “susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah
dia ke sungai (Nil)…”. Dalam ayat
ini Allah memerintahkan ibu Musa as untuk segera menyusi anaknya sesaat setelah
melahirkan. Menurut Wahbah Al-Zuhailiy, ibu Musa as menyusui selama tiga atau
empat bulan.[2]
Konsep menyusui dalam al-quran dijelasakan dengan menggunakan kata kerja radhi’a-yardha’u-radhâ’an-radhâ’atan,
untuk menunjukkan makna pada kegiatan menyusui.[3]
Kata al-radhâ’a terulang sebanyak 10 kali dengan berbagai derivasinya
dalam Alquran dan tersebar dalam 5 surat, yaitu: QS. Al-Baqarah [2]: 233, QS.
Al-Nisâ’ [4]: 23, QS. Al-Hajj [22]: 2, Al-Qashash [28]: 7 dan 12, QS. Al-Thalâq
[65]: 6.9[4]
Secara bahasa kata al-radhâ’a bermakna menyusui, baik itu seorang
perempuan atau pun binatang. Sedangkan secara istilah berarti menyampaikan air
susu seorang perempuan kepada mulut bayi yang belum sampai usianya dua tahun. [5]
Sebagaimana firman Allah:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ
أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ
Artinya: “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama
dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban
ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”, (QS. Al-Baqarah [2]: 233).
Pakar pendidikan telah mengadakan penelitian terhadap masyarakat yang moralitasnya
tinggi, diantara sebabnya adalah pada istri-istri Kaisar pada waktu itu menyusui
anak-anaknya sendiri, mereka tidak mau menyerahkan anak-anak mereka kepada
perempuan lain untuk menyusukannya.[6]
Dengan demikian, seyogyanya seorang ibu tidaklah memberikan anak mereka kepada
orang lain untuk disusui, sebab pada masa itu adalah masa dimana seorang ibu
memberikan rasa cinta dan kasih sayang lebih kepada si buah hati, dan tidak
hanya itu, seorang ibu juga dapat memberikan pendidikan kepada si buah hati dengan
mengenalkan kalimat-kalimat yang baik supaya dikala dewasa menjadi anak yang
sholeh sholehah, sebagaimana hadis nabi ;
الام
المدرسة الاولى
Seorang ibu merupakan
lembaga pendidikan yang pertama (dan utama).
Maka dari itu, keberhasilan anak menjadi baik dikala dewasa lebih
didominasi oleh bagaiman sikap seorang ibu kepada anak itu sendiri, begitu pula
kesehatan anak tergantung pada bagaimana seorang ibu dalam merawat anak-anak
mereka.
Oleh; MN
[2]
Wahbah Al-Zuhailiy, Tafsîr Al-Munîr, jilid 10, h. 423
[3]
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990),
cet. VIII, h. 143. Lihat juga Ibnu Manzhûr, Lisan Al-‘Arab, Tt: Tp, h.
1660
[4]
Muhammad Fuâd Abd Al-Bâqiy,Mu’jam Al-Mufahras li Alfâzh Al -Qur’ân Al-Karîm,
(Kairo: Dar Al-Hadits, 1346 H), h. 321
[5] Abdurrahman
al Jazîriy, Kitab Al-Fiqh ‘alâ Madzâhibi Al-Arba’ah, jilid. 4, (Beirut:
Dar Al-Kutub Al-‘Alamiyah, 2003), h. 23
[6]
Muhammad ‘Ali Al-Shabuniy, Rawâi’ Al-Bayân Tafsîr Âyât min Al-Qur’ân,jilid 1, h. 359
Minggu, 01 November 2020
Melangkah Pasti Di Penjara Suci
Entah sampai kapan aku akan terus berdiam didalamnya, waktu
terus berputar cakrawala kian melebar, kotak berpikirku semakin sempit, kedunguanku
semakin melejit.
Hamparan sejadah tidaklah cukup untuk dijadikan alas
bertafakkur mengusik langit yang sedang sunyi, mengisi ruang-ruang kecil dalam
kotak berpikir. Tangan terkepal harus terbuka lebar, jari-jemari harus lihai menelaah
lembaran-lembaran bertuliskan sandi-sandi kehidupan.
Penjara suci, merupakan kata lain dari pondok pesantren
tempat menimba ilmu, mengasah minat dan bakat guna menjadi generasi yang
berdaya, memiliki keterampilan dalam mengatur kehidupan menjadi lebih baik,
serta berbudaya, tahu diri siapa aku dan siapa dia, diaman aku dan harus
bagaimana.
Pondok pesantren bukanlah sebatas tempat untuk mendidik
santri menjadi seorang yang hafal atau bisa bertahlil saja, mengaji, ngitab. Pondok
pesantren merupakan ladang subur, tempat beranika rasa, tempat beranika warna,
tempat beranika karya.
Tiada gading yang tak retak, semua manusia mempunyai
kekurangan dan kelebihan, begitulah sang maha karya menciptakan kehidupan
dengan penuh warna, supaya saling melengkapi kepada sesama. Kekurangan dan
kelebihan manusia harus diterpa dan ditata guna menjadi pribadi-pribadi yang
berdaya dan berbudaya.
Aku bukanlah manusia sempurna yang memilik segalanya, aku
hanyalah manusia biasa yang tidak punya segalanya, namun aku ingin berusaha
untuk menata diri, berdaya tanpa berbudaya tidaklah cukup, karena hanya akan
membawa kehampaan dalam kehidupan.
Ditempat suci ini aku mengembara melanglang buana, belajar
makna kehidupan yang sebenarnya belajar menjadi manusia seutuhnya. Disinilah aku
berdiam mengisi kotak kosong dan rasa yang hampa dengan penuh warna, hari demi
hari kuhabiskan untuk berlayar dan mendaki mencari secercah cahaya Ilahi. Rasa haru
dan pilu pastilah berlalu dalam benakku, rasa rindu untuk bertemu bagaikan
bayangan yang tak mau berlalu. Angin bersama ombak tak pernah berhenti melambai
menghalau rasa merubah suasana, namun aku harus menyadari, semuanya hanyalah
benang-benang peruangan.
Man Jadda Wajada (barang siapa bersungguh-sungguh,
dia akan berhasil). Benang-benang perjuangan tidak boleh menjadi alasan untuk
berhenti melangkah, hidup penuh pilihan, akupun bertekad untuk berjalan memilih
menjadi manusia yang melangkah pasti dengan penuh arti.
Banyak orang beralasan, saya tidak bisa karena saya tidak
punya biaya, saya tidak mampu, padahal belum mencoba, saya tidak kuat, padahal
belum melangkah. Jika alasa-alasan itu aku letakkan dikotak pikiranku, sudah
pasti aku tidak dapat mengembara melanglang buana belajar makna kehidupan yang
sebenarnya.
Aku berjalan dengan penuh kesederhanaan belajar makna kehidupan,
karena aku sadar aku memang manusia yang terlahir dari keluarga yang tak
berdaya. Namu aku yakin orang tuaku berbudaya. Annisa` ayat 100 merupakan jimat
perjalanan hidupku dalam mengembara menelusuri tebing terjalnya kehidupan. Dalam
ayat itu berbunyi ;
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka
mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.
Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan
Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju),
maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”
Dalam kesederhanaanku, aku harus yakin bahwa aku harus
berjalan melangkah pasti. Ayat ini menjadi sandaran dalam perjalananku, aku
mengembara melanglang buana karena Lillah, disaat kotak pikiranku tertutup
rapat, akupun berteduh meratap dan menatap titik kehidupan, menagih janji-janji
kehidupan yang tertuang dalam al-quran.
Dalam kesungguhan tiada aral yang melintang, hanya butuh
kesabaran dan ketabahan dalam menjalani kehidupan.
Senin, 10 Agustus 2020
Sebab Adanya Ilmu Hitam

Rabu, 06 Mei 2020
Senin, 10 Februari 2020
Senin, 03 Februari 2020
Konferensi Internasional Al-Azhar Hasilkan 29 Rumusan Pembaharuan Pemikiran Islam
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.






